Featured Article

Minggu, 02 Juni 2013

Akuntansi Pajak Penghasilan

I.            Dasar Akuntansi untuk pajak penghasilan
Laba keuangan sebelum pajak adalah istilah pelaporan keuangan yang sering diacu sebagai laba sebelum pajak, laba untuk tujuan pelaporan keuangan, atau laba untuk tujuan pembukuan. Laba keuangan sebelum pajak ditentukan menurut GAAP dan diukur dengan tujuan memberikan informasi yang bergunan bagi investor dan kreditor.
Laba kena pajak atau laba untuk tujuan pajak, adalah istilah akuntansi pajak yang digunakan untuk menunjukkan jumlah yang menjadi dasar perhitungan hutang pajak perusahaan. laba kena pajak ditentukan menurut peraturan Internal Revenue (peraturan pajak) yang dirancang untuk mendapatkan uang guna mendukung operasi pemerintah.
Ilsutrasi untuk melihat perbedaan antara Laba Keuangan sebelum pajak dan Laba Kena Pajak
Asumsikan bahwa Chelsea Inc. melaporkan pendapatan sebesar $130.000 dan beban sebesar $60.000 pada masing-masing dari tiga tahun pertama operasinya.
Chelasea INC
Pelaporan GAAP

2002
2003
2003
Total
Pendapatan
$130.000
$130.000
$130.000

Beban
60.000
60.000
60.000

Laba Keuangan sebelum pajak
$70.000
$70.000
$70.000
$210.000
Beban pajak penghasilan (40%)
$28.000
$28.000
$28.000
$84.000
Untuk tujuan pajak yang (menjadi peraturan perpajakan), Chelsea ,elaporkan beban yang sama kepada IRS dalamk setiap tahunnya, tetapi pendapatan kena pajak adalah $100.000 pada tahun 2002, $150.000 pada tahun 2003, $140.000 pada tahun 2004.
Chelasea INC
Pelaporan GAAP

2002
2003
2003
Total
Pendapatan
$100.000
$150.000
$140.000

Beban
60.000
60.000
60.000

Laba kena pajak
$40.000
$90.000
$80.000
$210.000
Hutang pajak penghasilan (40%)
$16.000
$36.000
$32.000
$84.000

Beban pajak penghasilan dan hutang pajak penghasilan berbeda selama tiga tahun tetapi jumlah totalnya sama.
Chelasea INC
Bbeb pajak dan hutang pajak penghasilan

2002
2003
2003
Total
Beban Pajak Penghasilan
$28.000
$28.000
$28.000

Hutang pajak penghasilan
16.000
36.000
32.000

Perbedaan
$12.000
($8.000)
($4.000)
$0

II.            Kewajiban Pajak yang Ditangguhkan
Kewajiban Pajak yang Ditangguhkan adalah konsekuensi pajak yang ditangguhkan yang disebabkan oleh perbedaan sementara kena pajak.dengan kata lain, kewajiban pajak yang ditangguhkan menunjukkan kenaikan hutang pajak di tahun-tahun mendatang sebagai akibat dari perbedaan sementara kena pajak yang terjadi pada akhir tahun berjalan.
Pada contoh Chelsea Inc. bahwa hutang pajak penghasilan adalah $16.000 ($40.000 x 40%) pada tahun 2002. Selain itu, juga terdapat perbedaan sementara pada akhir tahun karena pendapatan dan piutang usaha yang terkait dilaporkan secara berbeda untuk tujuan pembukuan dan pajak. Dasar pembukuaan untuk piutang usaha adalah $30.000 dan dasar pajaknya adalah nol. Jadi, total kewajiban pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2002 adalah $12.000 yang dihitung sebagai berikut:
Dasar pembukuan untuk piutang usaha
$30.000
Dasar  Pajak untuk piutang usaha
-0-
Perbedaan sementara kumulatif pada akhir tahun 2002
$30.000
Tarif Pajak
40%
Kewajiban pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2002
$12.000

Cara lain menghitung kewajiban pajak yang ditangguhkan adalah dengan membuat skedul yang menujukkan jumlah  kena pajak yang dijadwalkan di masa depan sebagai akibat dari perbedaan sementara yang ada sekarang. Skedul semacam itu khususnya bermanfaat apabila perhitungan menjadi semakin rumit.

Tahun –tahun mendatang


2003
2004
Total
Jumlah kena pajak dimasa depan
$20.000
$10.000
$30.000
Tarif Pajak
40%
40%

kewajiban pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2002
$8.000
$4.000
$12.000

Karena tahun 2002 merupakan tahun pertama bagi Chelsea beroprasi, maka tidak ada kewajiban pajak yang ditangguhkan pada awal tahun. Beban pajak penghasilan untuk tahun 2002 dihitung sebagai berikut :
Kewajiban pajak  yang ditangguhkan pada akhir 2002
$ 12.000
Kewajiban pajak yang ditangguhkan pada awal 2002
-0-
Beban pajak yang ditangguhkan untuk 2002
12.000
Beban pajak berjalan untuk  tahun 2002
16.000
beban pajak penghasilan (total) untuk tahun 2002
$28.000

Perhitungan ini menunjukkan bahwa beban pajak penghasilan mempunyi dua komponen- beban pajak tahun berjalan (yaitu jumlah hutang pajak penghasilan selama periode berjalan) dan beban pajak yang ditangguhkan. Beban pajak yang ditangguhkan adalah kenaikan saldo kewajiban pajak yang ditangguhkan dari awal hingga akhir periode akuntansi.
Ayat jurnal tahun 2002 sebagai berikut :
Beban Pajak penghasilan
28.000

         Hutang Pajak Penghasilan

16.000
         Kewajiban Pajak yang ditangguhkan

12.000

Pada akhir tahun 2003 perbedaan antara dasar pembukuan dan dasar pajak untuk piutang usaha adalah $10.000. Perbedaan ini lalu dikalikan dengan tariff pajak yang berlakuuntuk mendapatkan angka kewajiban pajak yang ditangguhkan sebesar $4.000 ($10.000 x 40%) yang akan dilaporkan pada akhir tahun 2003. Hutang pajak penghasilan untuk tahun 2003 adalah sbb :
Kewajiban pajak  yang ditangguhkan pada akhir 2003
$ 4.000
Kewajiban pajak yang ditangguhkan pada awal 2003
12.000
Beban (manfaat) pajak yang ditangguhkan untuk 2003
(8.000)
Beban pajak berjalan untuk  tahun 2003
36.000
beban pajak penghasilan (total) untuk tahun 2003
$28.000

Ayat jurnal tahun 2003 sebagai berikut :
Beban Pajak penghasilan
28.000

Kewajiban Pajak yang ditangguhkan
  8.000

Hutang Pajak Penghasilan

36.000

III.            Penyajian dalam Laporan Laba Rugi
Dengan memakai informasi Chelsea Inc. tahun 2002, laporanlaba rugi Chelsea dapat dilaporkan sebagai berikut :
CHELSEA INC
Laporan Laba rugi
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2002
Pendapatan

$130.000
Beban

60.000
Laba sebelum pajak penghasilan

70.000
Beban Pajak penghasilan


Tahun Berjalan
$16.000

Ditangguhkan
12.000
28.000
Laba Bersih

$42.000

 Seperti telah diilustrasikan, baik bagian tahun berjalan (jumlah hutang pajak penghasilan untuk periode tersebut) maupun bagian yang ditangguhkan dari beban pajak penghasilan yang dilaporkan. Pilihan lain adalah cukup melaporkan total beban pajak penghasilan dalam laporan laba rugi, kemudian dalam catatan atas laporan keuangan ditunjukkan bagian tahun berjalan dan bagian yang ditangguhkan. Beban pajak penghasilan sering disebut sebagai “Provisi untuk Pajak Penghasilan”. Jika menggunaklan terminologi ini, maka provisi tahun berjalan adalah $16.000 ddan provisi untuk pajak  yang ditangguhkan adalah $12.000.

IV.            Aktiva Pajak yang ditangguhkan
Aktiva pajak yang ditangguhkan adalah konsekuensi pajak yang ditangguhkan akibat adanya perbedaan sementara yang dapat dikurangkan. Dengan kata lain, aktiva pajak yang ditangguhkan menunjukkan kenaikan pajak yang yang dapat diminta kembali (atau dihemat) ditahun-tahun mendatang sebagai akibat dari perbedaan sementara yang dapat dikurangkan yang terdapat pada akhir tahun berjalan.
Sebagai ilustrasi, asumsikan bahwa Hunt.co menangung kerugian serta kewajiban terkait sebesar $50.000 dalam tahun 2002 untuk tujuan pelaporan keuangan karena adanya penundaan perkara pengadilan. Jumlah ini tidak dapat dikurangkan untuk tujuan pajak sampai periode kewajiban itu dibayar, yang diperkirakan sampai tahun 2003. Akibatnya, akan timbul suatu jumlah yang dapat dikurangkan pada tahun 2003 ketika kewajiban itu  (estimasi kewajiban perkara) diiselesaikan, sehingga laba kena pajak menjadi lebih rendah daripada laba keuangan sebelum pajak. Perhitungan aktiva pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2002 (dengan mengasumsikan tariff pajak 40%) adalah sebagai berikut :

Dasar pembukuan untuk kewajiban perkara
$50.000
Dasar  Pajak untuk piutang usaha
-0-
Perbedaan sementara kumulatif pada akhir tahun 2002
50.000
Tarif Pajak
40%
Kewajiban pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2002
$20.000

Cara lain untuk menghitung aktiva pajak yang ditangguhkan adalah dengan membuat skedul yang menunjukkan jumlah yang dapat dikurangkan yang dijadwalkan di masa depan sebagai akibat dari perbedaan sementara yang dapat dikurangkan.

Tahun-tahun mendatang
Jumlah yang dapat dikurangkan di masa depan
$50.000
Tarif Pajak
40%
Aktiva pajak yang ditangguhkan
$20.000

Dengan mengasumsikan bahwa tahun 2002 adalah tahun pertama Hunt beroperasi, dan hutang pajak penghasilan adalah $100.000, beban pajak penghasilan sebagai berikut :
Aktiva pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2002
$20.000
Aktiva pajak yang ditangguhkan pada awal tahun 2002
-0-
Beban (manfaat) pajak yang ditangguhkan untuk tahun 2002
(20.000)
Beban pajak berjalan untuk tahun 2002
100.000
Beban pajak penghasilan (total) untuk tahun 2002
$80.000

Manfaat Pajak yang ditangguhkan berasal  dari kenaikan aktiva pajak yang ditangguhkan sejak awal sampai akhir periode akuntansi. Manfaat pajak yang ditangguhkan adalah komponen negative dari beban pajak penghasilan. Jadi, total beban pajak penghasilan sebesar $80.000 dalam laporan laba rugi tahun 2002 terdiri atas dua unsur - beban pajak tahun berjalan sebesar $100.000 dan manfaat pajak yang ditangguhkan sebesar $20.000. untuk Hunt Co. , ayat jurnal berikut dibuat pada akhir 2002 untuk mencatat beban pajak penghasilan, pajak  penghasilan yang ditangguhkan, dan hutang pajak penghasilan.
Beban Pajak penghasilan
80.000

Aktiva Pajak yang ditangguhkan
  20.000

Hutang Pajak Penghasilan

100.000

Pada akhir tahun 2003(tahun kedua) perbedaan antara nilai bhuku dan dasar pajak untuk kewajiban perkara ini adalah Nol.  Oleh karena itu, tidak ada aktiva pajak yang ditangguhkan pada tanggal ini. Dengan mengasumsikan bahwa hutang pajak penghasilan untuk tahun 2003 adalah $140.000, perhitungan beban pajak penghasilan untuk tahun 2003 adalah sebagai berikut :
Aktiva pajak yang ditangguhkan pada akhir tahun 2003
$ -0-
Aktiva pajak yang ditangguhkan pada awal tahun 2003
20.000
Beban (manfaat) pajak yang ditangguhkan untuk tahun 2003
20.000
Beban pajak berjalan untuk tahun 2003
140.000
Beban pajak penghasilan (total) untuk tahun 2003
$160.000

Ayat jurnal untuk mencatat pajak penghasilan tahun 2003 adalah sebagai berikut :
Beban Pajak penghasilan
160.000

Aktiva Pajak yang ditangguhkan
 
20.000
Hutang Pajak Penghasilan

140.000

Total beban pajak penghasilan sebesar $160.000 dalam laporan laba rugi tahun 2003 terdiri atas dua unsur-beban pajak tahun berjalan sebesar $140.000 dan beban pajak yang ditangguhkan sebesar $20.000.

V.            Akuntansi Untuk Net Operating Loses
Net Operating Loses (NOL) terjadi untuk tujuan pajak dalam satu tahun ketika pengurangan pajak beban melebihi pendapatan kena pajak. Perusahaan mencapai penyediaan pendapatan rata-rata melalui carryback dan carryforward of net operating loses.
Loss Carryback
Melalui penggunaan loss carryback, perusahaan dapat membawa net operating loss. kembali dua tahun.
       Loss Carryforward
Sebuah perusahaan dapat melupakan loss carryback  dan hanya menggunakan pilihan loss carryforward, mengimbangi pendapatan kena pajak sampai 20 tahun.

Year                Taxable Income or Loss                      Tax rate                       Tax Paid
2007                            $ 50.000                                     35%                          $17.500
2008                            100.000                                     30%                             30.000
2009                            200.000                                     40%                             80.000
2010                            (500.000)                                     -                                     -0-
 
Contoh Loss Carryback
   Oleh karena itu, file Groh diubah pengembalian pajak untuk tahun 2008 dan 2009, menerima pengembalian dana untuk $ 110,000 (30.000 + 80,000)
Untuk Akuntansi serta tujuan pajak, yang mewakili 110.000 pengaruh pajak. Karena rugi fiskal menimbulkan pengembalian dana yang bersifat terukur dan saat realisasi
Adapun jurnalnya :
Income Tax Refund Receivable                      110.000
                 Benefit Due to Loss Carryback                                  110.000

Contoh Loss Carryforward
Jika carryback gagal untuk sepenuhnya menyerap net operating loss atau jika perusahaan memutuskan untuk tidak membawa kerugian kembali, maka dapat meneruskan kerugian hingga 20 tahun. karena perusahaan menggunakan akumulasi untuk mengimbangi pendapatan kena pajak, pengaruh pajak atas carryforward merupakan penghematan pajak masa mendatang.
Carryforward (recognition)
Untuk menggambarkan: Pada tahun 2010, perusahaan rekaman pengaruh pajak atas hilangnya 200.000 fiskal sebagai aset pajak tangguhan dari 80.000 (200.000 x 40%), dengan asumsi bahwa tingkat masa pajak yang berlaku adalah 40%:
Adapun jurnalnya :
Income Tax Refund Receivable                      110.000
                 Benefit Due to Loss Carryback                                  110.000
Deferred tax asset                                                            80.000
     Benefit due to Loss carryforward                              80.000

Manfaat pajak kini dari 110.000 adalah pajak penghasilan dikembalikan untuk tahun. Groh menentukan jumlah ini dengan menerapkan ketentuan tersebut carryback dari undang-undang pajak untuk taxable loss untuk tahun 2010. $ 80,000 adalah manfaat pajak tangguhan .Untuk tahun 2011, Asumsikan penghasilan kena pajak dari 250.000, dikenakan 40%. Grohy menghitung hutang pajak penghasilan untuk tahun 2011:

Taxable Income prior to loss carryforward      $250.000
Loss carryforward deduction                           (200.000)
Taxable income for 2011                                   50.000
Tax rate                                                               X 40 %
Income tax payable for 2011                              20.000
 
 





Groh mencatat pajak penghasilan 2011 :
Income Tax Expense                    100.000
    Deferred Tax Asset                                          80.000
    Income tax payable                                          20.000

Adapun laporan labarugi tahun 2011 :
 








Carryforward (Non-Recognition)
Kita kembali ke contoh Groh. Asumsikan bahwa kemungkinan Groh tidak akan menyadari Fiskal NOL seluruh di tahun-tahun mendatang. Groh mencatat manfaat pajak dari 110.000 terkait dengan carryback 300.000  NOL.
Adapun Jurnalnya :
Income Tax Refund Receivable                  110.000
                        Benefit Due to Loss Carryback                                  110.000

Pada tahun 2011, Penghasilan Kena Pajak dari 250.000 dikenakan tarif pajak 40%.
Adapun jurnalnya:
Deferred tax asset                                           80.000
                        Benefit Due to Loss Carryforward                 80.000

Income tax expense                                         100.000
                        Deferred tax asset                                             80.000
                        Income tax payable                                           20.000

Non recognition Revisited
Apakah perusahaan akan mewujudkan aktiva pajak tangguhan tergantung pada apakah laba fiskal memadai untuk ada atau akan ada dalam periode carryforward tersedia di bawah hukupajak.
Sumber Penghasilan Kena Pajak:
a. Apakah perusahaan memiliki perbedaan yang cukup temporer kena pajak yang berkaitan dengan otoritas pajak yang sama, yang akan menghasilkan jumlah kena pajak dikompensasi dengan saldo rugi fiskal atau kredit pajak yang belum digunakan sebelum merekberakhir.
b. Apakah ada kemungkinan bahwa perusahaan akan memiliki laba kena pajak sebelum saldo rugi fiskal atau kredit fiska berakhir.
c. Apakah saldo rugi fiskal akibat dari penyebab yang dapat diidentifikasi, yang tidak mungkin untukambuh
d. Apakah perencanaan pajak peluang yang tersedia untuk perusahaan yang akan menciptakan laba kena pajak dalam periode di mana saldo rugi fiskal atau kredit pajak yang belum digunakan.

VI.            Rekonsiliasi pajak
Pengungkapan lain yang  penting adalah rekonsiliasi antara beban pajak aktual dan tarif pajak yang berlaku. Perusahaan memberikan:
1. Rekonsiliasi antara beban pajak numerik dan produk dari laba akuntansi dikalikan dengan tarif pajak yang berlaku, mengungkapkan juga menjadi dasar di mana tarif pajak yang berlaku dihitung.
2. Rekonsiliasi numerik antara tarif pajak efektif rata-rata dan tarif pajak yang berlaku, mengungkapkan juga menjadi dasar di mana tarif pajak yang berlaku dihitung.

Pengungkapan pajak penghasilan ini diperlukan karena beberapa alasan:
1. Menilai kualitas laba. Banyak investor berusaha untuk menilai kualitas laba perusahaan tertarik dalam hubungan antara laba sebelum pajak keuangan dan penghasilan kena pajak.
2. Membuat prediksi yang lebih baik dari arus kas masa depan. Pemeriksaan bagian ditangguhkan dari beban pajak penghasilan memberikan informasi mengenai apakah hutang pajak cenderung lebih tinggi atau lebih rendah di masa depan
3. Memprediksi arus kas masa depan untuk kompensasi rugi operasi. Perusahaan harus mengungkapkan jumlah dan tanggal kadaluarsa dari setiap akumulasi rugi operasi untuk tujuan pajak

Sabtu, 01 Juni 2013

Kisah Beruang

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dgn sabar ditepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.
Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun,tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.
Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku." "Mengapa ? " Tanya beruang.
"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan. "
Lalu kenapa?" tanya beruang lagi. "Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu." kata ikan. "Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?" Tanya beruang "Mengapa," ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan !" jawab beruang sambil tersenyum mantap. "Ops !" teriak sang ikan.
Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kitatidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap :"Ohhhh... andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.

Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;....
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ....

Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ....
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita....


Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi kesempatan yang besar.

Kamis, 25 April 2013

Harga Pokok Variabel

Perhitungan Biaya Variabel
Dengan menggunakan perhitungan harga pokok variabel, hanya biaya produksi yang berubah-ubah sesuai dengan output yang diperlakukan sebagai biaya produk. Termasuk didalamnya adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik variabel. Biaya overhead pabrik tetap tidak diperlakukan sebagai biaya produk dalam metode ini. Sebaliknya, biaya overhead pabrik diperlakukan sebagai biaya periodik yang mana bebannya dibebankan secara utuh kedalam pendapatan setiap periodenya. Konsekuensinya, biaya per unit produk dalam persediaan atau dalam harga pokok penjualan dalam metode perhitungan harga pokok variabel tidak mengandung elemen biaya overhead tetap.
Perhitungan harga pokok variabel sering disebut sebagai perhitungan biaya langsung (direct costing) atau perhitungan biaya marginal (marginal costing). Perubahan dalam produksi tidak memiliki pengaruh terhadap laba bersih operaasional ketika metode variabel costing digunakan. Perhitungan harga pokok variabel tidak dapat digunakan untuk laporan eksternal dan laporan pajak. Meskipun demikian, metode tersebut dapat digunakan untuk kepentingan internal dalam membuat perencanaan. Pendekatan perhitungan harga pokok variabel berhubungan erat dengan konsep biaya-volume-laba yang selalu dipertimbangkan oleh manajer dalam perencanaan laba dan pembuatan keputusan.
Perbedaan Perhitungan Laba Bersih yang Menggunakan Metode HPV dengan Harga Pokok Penuh
1.        Ketika produksi dan penjualan sama, laba bersih operasional akan sama secara umum dengan tidak memandang apakah digunakan perhitungan harga pokok penuh atau perhitungan harga pokok variabel. Perbedaannya hanya terletak pada nilai dari overhead pabrik tetap yang diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi. Ketika semua yang diproduksi pada tahun itu telah terjual, semua overhead pabrik tetap yang dibebankan ke unit produk menggunakan perhitungan harga pokok penuh menjadi bagian dari harga pokok penjualan untuk tahun itu. Dengan perhitungan harga pokok variabel, overhead pabrik tetap langsung dibebankan ke laporan laba rugi. Sehingga dengan kedua metode itu, ketika produksi sama dengan penjualan, semua overhead pabrik tetaap yang terjadi ditahun itu langsung mengalir ke laporan laba rugi sebagai beban. Sehingga, laba operasi bersih dengan menggunakan kedua metode tersebut adalah sama.
2.        Ketika produksi melebihi penjualan, laba bersih operasional yang dilaporkan dengan menggunakan perhitungan harga pokok penuh pada umumnya akan lebih besar dari laba bersih operasional yang dilaporkan dengan perhitungan harga pokok variabel. Ini terjadi karena dengan perhitungan harga pokok penuh, sebagian biaya biaya overhead pabrik tetap untuk periode berjalan ditangguhkan dalam persediaan.
Tetapi, dengan perhitungan harga pokok variabel semua biaya overhead pabrik tetap untuk tahun berikutnya telah dibebankan terhadap pendapatan sebagai biaya periodik. Sebagai hasilnya, laba bersih operasional untuk tahun berikutnya tersebut dengan perhitungan harga pokok variabel lebih rendah dibanding dengan perhitungan harga pokok penuh.
3.        Ketika produksi dibawah penjualan, laba bersih operasional yang dilaporkan dengan menggunakan perhitungan harga pokok penuh pada umumnya akan lebih rendah dari laba bersih operasional yang dilaporkan dengan perhitungan harga pokok variabel. Ini terjadi karena persediaan menurun dan biaya overhead pabrik tetap yang sebelumnya ditangguhkan dalam persediaan dengan metode perhitungan harga pokok penuh sekarang dikeluarkan dan dibebankan terhadap pendapatan ( fixed manufacturing overhead cost released from inventory ). Sebaliknya, dengan perhitungan harga pokok variabel laba bersih operasionalnya akan lebih tinggi dibanding dengan perhitungan harga pokok penuh
4.        Dalam jangka panjang, laba bersih operasional yang dihitung dengan perhitungan harga pokok penuh dan variabel akan cenderung sama. Alasannya adalah dalam jangka panjang penjualan tidak dapat melebihi produksi, begitu juga produksi tidak akan melebih penjualan. Semakin pendek periodenya, laba bersih operasi akan cenderung semakin berbeda.
   Laporan Laba-Rugi dengan Perhitungan Harga Pokok Penuh dan Variabel
1.        Dengan menggunakan perhitungan harga pokok penuh, jika persediaan meningkat maka beberapa biaya produksi tetap dalam periode berjalan tidak tampak dalam laporan laba rugi sebagai bagian dari harga pokok penjualan. Biaya-biaya tersebut akan ditangguhkan ke periode berikutnya dan akan dimasukkan dalam akun persediaan dalam neraca. Biaya overhead pabrik tetap untuk periode berjalan ditangguhkan ke periode berikutnya, dimana diharapkan unit persediaan yang ada akan diambil dan dijual.
2.        Dengan metode perhitungan harga pokok variabel, seluruh biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai bahan periode berjalan.
3.        Persediaan akhir dalam metode perhitungan harga pokok variabel lebih rendah dibandingkan perhitungan harga pokok penuh. Alasannya adalah dalam perhitungan biaya variabe, hanya biaya produksi variabel yang dibebankan ke unit produk dan dengan demikian dimasukkan dalam persediaan.
4.        Laporan laba-rugi perhitungan harga pokok penuh tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel, sehingga metode ini tidak cocok untuk perhitungan biaya-volume-laba, dibutuhkan waktu untuk mengerjakan ulang dan mengklasifikasi biaya dalam laporan perhitungan harga pokok penuh.
5.        Pendekatan perhitungan harga pokok variabel untuk menentukan biaya produksi per unit sesuai dengan pendekatan kontribusi karena kedua konsep tersebut mengklasifikasi biaya berdasarkan perilakunya.

Senin, 22 April 2013

Perilaku Biaya

Perilaku biaya berarti bagaimana biaya akan bereaksi atau merespon perubahan aktivitas bisnis. Bila aktivitas bisnis meningkat atau surut, biaya tertentu mungkin akan ikut naik atau turun atau mungkin juga tetap. Untuk tujuan perencanaan, manajer harus dapat mengantisipasi apakah yang akan terjadi; jika biaya mengalami perubahan, manajer harus tahu sejauh mana perubahannya. Untuk membantu tugas manajer tersebut, biaya biasanya dikategorikan menjadi variabel, semivariabel, dan tetap.


JENIS-JENIS PERILAKU BIAYA
BIAYA VARIABEL
     Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah secara proporsional terhadap perubahan tingkat aktivitas. Jika tingkat aktivitasnya dinaikkan, total biaya variabelnya juga akan naik. Suatu biaya bersifat variabel dikarenakan basis aktivitasnya, yaitu ukuran segala sesuatu yang menyebabkan adanya biaya variabel. Basis aktivitas juga disebut sebagai pemicu biaya ( cost driver ). Beberapa basis aktivitas yang umum adalah jam tenaga kerja langsung, jam mesin, unit yang diproduksi, dan unit yang dijual. Untuk merencanakan dan mengendalikan biaya variabel, manajer harus mengenal baik berbagai aktivitas yang terjadi di perusahaannya. Porsi biaya variabel dan tipe biaya variabel dalam organisasi sangat tergantung pada tujuan dan struktur organsasi.
      Tidak semua biaya variabel memiliki pola yang sama. Beberapa biaya variabel berperilaku sebagai biaya variabel sejati atau variabel proporsional. Sedangkan lainnya memiliki memiliki pola bertahap. Bahan langsung dianggap sebagai biaya variabel sejati atau biaya variabel sejati atau biaya variabel proporsional karena jumlah yang digunakan selama satu periode akan memiliki proporsi langsung dengan tingkat aktivitas produksi.
    Sumber daya yang diperoleh dalam jumlah besar dan yang biayanya meningkat atau berkurang hanya karena adanya perubahan yang besar dalam tingkat aktivitas disebut biaya variabel bertahap.
  BIAYA TETAP
   Biaya tetap adalah biaya yang selalu tetap secara keseluruhan tanpa terpengaruh oleh tingkat aktivitas sehingga pada saat level aktivitas naik atau turun, total biaya tetap konstan. Biaya tetap biasanya disebut biaya kapasitas sebab biaya tersebut terjadi karena adanya gedung, peralatan, karyawan profesional yang terlatih, dan item lainnya yang dibutuhkan untuk menyediakan kapasitas produk untuk mempertahankan aktivitasnya. Untuk tujuan perencanaan, biaya tetap dipilah menjadi biaya yang telah ditentukan dan biaya uang dikeluarkann berdasakan kebijakan manajemen.
   Biaya tetap yang telah ditentukan berkaitan dengan investasi fasilitas, peralatan, dan struktur organisasi pokok dalam suatu perusahaan. Sedangkan biaya tetap kebijakan disebabkan oleh keputusan tahunan  yang dibuat oleh manajemen untuk membelanjakan biaya tetap tertentu. Suatu biaya akan diklasifikasikan sebagai biaya tetap yang telah ditentukan atau biaya tetap kebijakan sangat tergantung pada strategi manajemen.
   Tren di beberapa perusahaan menunjukkan bahwa biaya tetap semakin besar porsinya dibandingkan dengan biaya variabel. Meskipun semakin banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin, permintaan secara keseluruhan terhadap pekerjaan oleh manusia tidak berkurang.
BIAYA SEMIVARIABEL
    Biaya semivariabel adalah biaya yang terdiri dari elemen biaya variabel maupun biaya tetap. Porsi biaya tetap dalam biaya semivariabel menunjukkan biaya minimum yang harus dimiliki agar jasa tersedia dan siap digunakan. Porsi biaya variabel menunjukkan biaya yang terjadi atas konsumsi aktual atas jasa perusahaan. Elemen variabel akan tergantung pada jumlah konsumsi jasa perusahaan.
   Pada biaya semi variabel, biaya satuan akan berubah terbalik dihubungkan dengan perubahan volume kegiatan tetapi sifatnya tidak sebanding. Sampai dengan tingkatan kegiatan tertentu semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume kegiatan semakin tinggi biaya satuan.

PENENTUAN POLA PERILAKU BIAYA 
Ada 3 faktor yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan pola perilaku suatu biaya.
        Pertama, harus dipilih biaya yang akan diselidiki pola perilakunya. Biaya ini merupakan variabel tidak bebas (dependent variable) dan biasanya dinyatakan dengan simbol y.
    Kedua, harus dipilih variabel bebas (independent variable), yaitu sesuatu yang menyebabkan biaya tersebut berfluktuasi. Secara matematis, fungsi tersebut dinyatakan,  y = f(x).
     Ketiga, harus dipilih kisaran kegiatan yang relevan (relevant range of activity), dimana hubungan antara variabel bebas dan tidak bebas yang dinyatakan dalam fungsi biaya tersebut berlaku.

CARA MENGESTIMASI BIAYA
       Penting bagi manajemen untuk memahami bagaimana hubungan antara biaya dengan faktor-faktor yang memicu perubahan biaya (cost driver). Estimasi biaya membantu manajemen untuk memprediksi berapa besarnya biaya pada level aktivitas yang direncanakan termasuk menyusun perencanaan kegiatan dan menyusun anggaran.
       Perubahan total biaya dapat dijelaskan oleh perubahan level aktivitas tunggal. Sebagai contoh variasi dalam jam kerja mesin mempengaruhi total biaya, atau variasi jam kerja tenaga kerja langsung mempengaruhi total biaya. Perubahan total biaya dalam contoh ini hanyadisebabkan oleh satu jenis level aktivitas apakah jam kerja mesin atau jam kerja tenaga kerja langsung, bukan oleh keduanya.
       Perilaku biaya dapat digambarkan dalam fungsi linier untuk level aktivitas pada rentang relevan. Fungsi biaya linier adalah fungsi biaya yang menggambarkan hubungan antara total biaya dengan level aktivitas tunggal dalam bentuk garis lurus. 
       Terdapat dua pendekatan dalam mengestimasi biaya, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pada pendekatan kualitatif terdapat metode engineering, analisis akun, dan konferensi; sedangkan pendekatan kuantitatif terdapat metode high-low, scattergraph, dan least-square.
1.      Pendekatan Kualitatif
a.         Metode Engiinering, Mengestimasi biaya dengan menganalisa hubungan antara  input dan output secara fisik. Metode ini membutuhkan analisis dan penelaahan secara sistematis untuk mengetahui kebutuhan bahan baku, tenaga kerja, perlengkapan pendukung dan fasilitas lain dalam rangka membuat produk atau jasa tertentu. Estimasi biaya yang dihasilkan hampir mendekati keadaan yang sesungguhnya, namun metode ini kurang praktis dan membutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya.
b.      Metode Analisis Akun, Biaya dipisahkan berdasarkan hasil analisis akun-akun buku besar dengan mempertimbangkan aktivitas yang diidentifikasi.  Metode ini menggunakan pengalaman dan justifikasi untuk mengklasifikasikan biaya
c.       Metode Konferensi,  Mengumpulkan opini dan analisis yang diperoleh dari berbagai sumber tentang biaya dan faktor-faktor yang memicu perubahannya. Metode ini berdasarkan pada pendapat-pendapat dari tenaga ahli yang berpengalaman dan menguasai bidangnya.
2.      Pendekatan Kuantitatif
a.         Metode High-Low, Metode pemisahan semi variable cost dengan menggunakan biaya tertinggi dan terendah dari sekolompok data yang tersedia. Metode ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya diantaranya mudah dan sederhana dalam penerapannya dan banyak digunakan secara luas sedangkan kekurangannya tidak mengakomodir semua titik koordinat yang tersedia sehingga ada data yang tidak terwakili.
b.        Metode Scattergraph, Metode pemisahan semi variable cost dengan terlebih dahulu menggambarkan semua titik koordinat dari semua data tersedia, kemudian  ditarik garis biaya yang paling mendekati. Pendekatan ini tetap masih relatif kasar. Pendekatan ini jarang digunakan dalam praktik. Meskipun demikian, membuat plot dalam scattergraph menjadi langkah diagnosis yang esensial
c.         Metode Least-Square, Metode yang memisahkan biaya semivariabel menjadi komponen biaya tetap dan biaya variabel dengan menggunakan seluruh data. Garis regresi dengan rumus Y = a + bX disesuaikan dengan data yang ada. Dalam rumus tersebut a mencerminkan biaya tetap, b mencerminkan biaya variabel, sedangkan X mencerminkan aktivitas.

Dasar Akuntansi Manajemen


Akuntansi manajerial berkaitan dengan penyediaan informasi untuk para manajer atau orang-orang didalam suatu perusahaan yang mengatur, mengendalikan ataupun mengontrol operasi didalam perusahaan tersebut. Akuntansi manajerial menyediakan data-data penting yang memberikan informasi kegiatan-kegiatan perusahaan/organisasi berupa laporan-laporan yang berkaitan dengan kinerja manajer atau unit bisnis, selain itu akuntan manajer juga menyiapkan laporan analitis sesuai kebutuhan untuk menyelidiki permasalahan khusus yang dihadapi. Umumnya informasi yang dihasilkan bersifat mendalam dan tidak dipublikasikan kepada pihak luar.
Terdapat beberapa perbedaan antara akuntansi manajerial dengan akuntansi keuangan diantaranya, laporan yang dihasilkan dari akuntansi manajerial digunakan oleh pihak internal perusahaan sedangkan pada akuntansi keuangan, laporannya digunakan oleh pihak eksternal misalnya saja kreditor, investor, regulator, dll. Kemudian akuntansi keuangan penyusunan laporannya berdasarkan hasil-hasil keuangan dari aktivitas masa lalu (historis) sedangkan akuntansi manajerial menekankan pada pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi masa depan (futuristik). Akuntansi keuangan menekankan pada data yang objektif dan dapat diverifikasi sedangkan akuntansi manajerial menekankan pada data yang relevan. Laporan pada akuntansi keuangan hanya tertuju pada gambaran keuangan keseluruhan perusahaan sedangkan pada akuntansi manajerial tertuju pada tiap segmen/bagian manajemen perusahaan tersebut.
Perbedaan yang lainnya yaitu akuntansi keuangan yang disiapkan untuk kepentingan pihak eksternal harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Hal ini dilakukan dengan pengharapan dapat mengurangi adanya penyelewengan dan kesalahan interpretasi namun laporan tersebut tidak memberikan panduan tipe laporan yang begitu berguna bagi keputusan internal perusahaan yang mana lebih menggunakan akuntansi manajerial yaitu manajer dapat merancang aturan main untuk isi dan format laporan untuk pihak internal. Dan kemudian perbedaan yang lainnya yaitu akuntansi manajerial bukanlah suatu keharusan didalam perusahaan, keberadaan akuntansi manajerial hanya sebatas kebutuhan perusahaan tersebut dibandingkan dengan akuntansi keuangan yang merupakan suatu keharusan bagi perusahaan untuk membuatnya karena hasil dari laporannya juga akan digunakan oleh pihak eksternal perusahaan secara periodik.
Akuntansi manajerial menyediakan data-data penting yang memberikan informasi kegiatan perusahaan yang mana akan digunakan oleh pihak manajemen perusahaan tersebut. Sebaliknya akuntansi keuangan hanya menyediakan informasi bagi para pemegang saham, kreditor, dan pihak-pihak lain di luar perusahaan serta hanya bertindak sebagai penilai yang menjadi dasar evaluasi kinerja perusahaan di masa lalu.
Walaupun terdapat beberapa perbedaan yang disebutkan diatas, sebetulnya data keuangan yang mendasari antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen adalah sama. Misalnya saja berdasarkan pencatatan transaksi keuangan yang dilakukan oleh akuntansi keuangan, akuntansi manajemen dapat melihat bagaimana estimasi penggunaan biaya untuk operasional perusahaan berdasarkan pencatatan tersebut sehingga pengorganisasian kerja perusahaan dapat lebih efektif dan efisien.
Hubungan lain antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan yaitu keduanya merupakan pengolah informasi yang menghasilkan informasi keuangan yang mana menjadi salah satu dasar dalam pengambilan keputusan perusahaan. Sehingga antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan memiliki keterkaitan bagi para pihak internal perusahaan untuk menghasilkan keputusan rencana kinerja bagi perusahaan.
Didalam pembuatan keputusan dalam akuntansi manajemen terdapat siklus perencanaan dan pengendalian. Pertama para pihak pengambil keputusan merumuskan terlebih dahulu rencana jangka panjang dan jangka pendek yang akan diterapkan pada perusahaan, kemudian setelah rencana tersebut telah disepakati maka diterapkanlah rencana tersebut kedalam lingkungan perusahaan.
Dalam periode tertentu perusahaan melakukan beberapa evaluasi untuk melihat serta mengukur bagaimana kinerja perusahaan selama periode berjalan tersebut. Pada posisi inilah perusahaan melakukan pengendalian terhadap kinerja perusahaannya serta kemudian akan membandingkan bagaimana perbandingan atas rencana atau estimasi kinerja perusahaan sebelumnya dengan realitas kinerja perusahaan yang terjadi. Berdasarkan evaluasi-evaluasi yang dilakukan tersebut maka perusahaan akan membuat kebijakan apakah rencana-rencana yang dibuat sebelumnya akan tetap dilaksanakan atau akan dibuatkan rencana yang baru untuk kinerja perusahaan yang lebih baik.
 Pada akuntansi biaya mempunyai tujuan untuk menghitung biaya produksi dalam rangka menetapkan harga pokok produk baik itu  produk pesanan ataupun produksi massal dan menyusun laporan biaya guna memenuhi kepentingan manajemen. Dari uraian tersebut dapat dikatakan  bahwa akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen karena akuntansi biaya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pihak eksternal dan pihak internal perusahaan.
Akuntansi biaya mengukur dan melaporkan informasi keuangan dan non-keuangan yang terkait dengan biaya untuk memperoleh/menggunakan sumber daya dari perusahaan. Akuntansi biaya menggambarkan aktivitas manajer dalam perencanaan dan pengendalian biaya jangka pendek maupun jangka panjang sehingga dapat meningkatkan nilai bagi konsumen serta menurunkan biaya produk/jasa.
Dalam operasi perusahaan, manajamen perusahaan harus dapat mengatur seefisien mungkin kinerja perusahaannya. Dalam menjaga kualitas kinerja perusahaann biasanya pihak manajemen perusahaan akan melakukan perencanaan, pengarahan, pemberian motivasi, dan kemudian melakukan pengendalian agar kualitas kinerja perusahaan dapat bertahan. Data-data atas kinerja perusahaan selama periode tertentu tersebut dipegang oleh akuntan manajemen sehingga peran akuntan manajemen sangat diperlukan oleh pihak manajemen perusahaan dalam hal pengambilan keputusan nantinya. Data-data yang disediakan oleh akuntan manajemen tersebut akan dimanfaatkan oleh pihak pengambil keputusan serta mengkombinasikannya dengan beberapa alternatif rencana yang telah dibuat untuk membentuk efisiensi kinerja operasional perusahaan yang lebih baik.

Popular Posts